-->

Friday, 1 March 2013

Rolling Stone Cover Story : Agnes Monica @agnezmo Berjuang Sampai Mati

Sang penyanyi sensasional, tentang diri sendiri, para pembenci dan karier internasional.
Oleh: Wening Gitomartoyo



Jakarta - Di akhir Januari lalu, Rolling Stone Indonesia bertemu dengan penyanyi yang memiliki jadwal supersibuk, Agnes Monica. Di siang hari itu, Agnes datang tepat waktu, bersama dua asisten dan seorang sopir. Kulitnya coklat mengkilat, atau tanned dalam bahasa Inggris, seperti habis kena guyuran sinar matahari. Ia memakai atasan tanpa lengan warna hitam, celana pendek putih, kalung emas panjang, dan sepatu wedges hitam. Rambut sebahunya tersapu bersih ke belakang dan dikuncir tinggi, membuat wajah cantiknya semakin kentara.

Perempuan 26 tahun ini kabarnya tengah menjalani penggarapan album terbarunya yang disebut-sebut internasional karena melibatkan produser tersohor, Timbaland (jejak karyanya selama ini mencakupi nama-nama seperti Justin Timberlake, Missy Elliott dan Jay-Z). Yang juga masih gres adalah lagu “Muda (Le O Le O)”, terbit atas kerja sama Agnes dengan kartu telepon seluler Simpati. Tapi untuk kedua proyek ini, atau paling tidak kelanjutan dari “Muda”, Agnes memilih untuk tutup mulut.

“Saya belum boleh cerita,” ujarnya pendek.

Memulai karier dengan merilis album anak-anak di usia enam tahun, Agnes kemudian merilis dua album anak-anak lagi. Nama dan wajahnya semakin santer di seantero Indonesia saat ia menjadi pembawa acara beberapa program televisi anak-anak. Masuk remaja, Agnes bergeser masuk ke sinetron. Setelah Lupus Millenia dan Mr. Hologram, Pernikahan Dini melontarkan namanya ke jagad hiburan. Predikatnya bertambah satu, kini ia juga bisa disebut sebagai aktris.

Di tahun 2003 saat usianya 17 tahun, ia mengeluarkan album And the Story Goes dengan kelir musik R&B dan pop (jenis musik yang kemudian hampir selalu lekat dengan Agnes). Penyanyi anak-anak itu sudah menjadi penyanyi remaja. Dua tahun kemudian, album Whaddup A’..?! dirilis dan menghasilkan lagu hit “Tak Ada Logika”. Album ini mendapat penghargaan antara lain dari AMI Awards dan MTV Indonesia Awards.

Ucapan keinginan go international yang pernah keluar dari mulutnya seperti tak pernah selesai jadi pembicaraan. Namanya di Indonesia sampai-sampai hampir sinonim dengan frase go international. Tapi itu juga kemudian jadi bahan cibiran. Agnes dianggap belum juga membuktikan bahwa ia bisa masyhur di kelas dunia.

Faktanya, sejak tahun 2005 ia mulai bekerja dalam tataran internasional. Agnes mengajak penyanyi Keith Martin dalam album Whaddup A’..?!, dan terlibat dalam dua serial Taiwan, The Hospital dan Romance in the White House. Pada Asia Song Festival tahun 2008 dan 2009 di Seoul, Korea Selatan, ia mendapat penghargaan Best Asian Artist. Setahun setelahnya, ia menjadi salah satu pembaca acara karpet merah di American Music Awards, Los Angeles.

Soal memperoleh nominasi dan penghargaan, Agnes bisa dibilang jadi langganan. Ia antara lain masuk nominasi dalam daftar Worldwide Act Asia Pacific di MTV Europe Awards 2011, nominasi Favorite Asian Act di American Nickelodeon Kids Choice Awards 2012, dan menang sebagai Best Asian Artist Indonesia dalam Mnet Asian Music Awards 2012, salah satu acara penghargaan musik paling bergengsi di Korea Selatan. Ini di luar penghargaan AMI Music, Panasonic Awards dan MTV Indonesia Awards. Yang paling baru, Agnes masuk dalam nominasi Best Female Artist dalam World Music Awards 2013 yang berbasis di Monaco.

Sampai kini, Agnes telah merilis tujuh album (terakhir adalah kumpulan lagu terbaik, Agnes is My Name, 2011). Pada Desember 2012, ia menjadi salah satu pembicara dalam acara Global Youth Forum milik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Bali. Lagu duetnya dengan Timbaland direncanakan menjadi theme song program Global Youth Forum ini.

Di The Conga Room, Los Angeles, pada 8 Februari (9 Februari waktu Indonesia), Agnes mencatat satu lagi sejarah dengan tampil di pesta menjelang acara penghargaan Grammy 2013. Dalam acara prakarsa PBB untuk meluncurkan platform mPowe-ring Action ini, Agnes membawakan lagu yang diproduksi oleh Timbaland, “Show A Little Love”. Di panggung yang sama, Justin Timberlake yang hadir sebagai kejutan tampil bersama Timbaland, berlanjut pada penyanyi Estelle dan ditutup oleh Avicii.

Di antara cemoohan yang selalu ada dan dorongan penggemarnya yang terkenal militan (di Twitter, ada tak kurang dari 24 akun dengan titel penggemar Agnes Monica) alias begitu gesit menangkis atau menyerang sedikit saja omongan miring tentang idolanya, Agnes terus mengeluarkan karya. Kegigihannya yang liat bisa kita duga berasal dari disiplin kedua orang tuanya, mantan pemain tenis meja dan bulutangkis. Di salah satu episode acara Kick Andy, Agnes mengungkapkan ia tumbuh dalam keluarga dengan mentalitas atlet.

Saat bicara, ia terlihat cerdas, mengungkapkan pendapat dengan runut, juga bersemangat. Matanya sering berbinar-binar, dan tangannya bergerak-gerak seperti mengikuti laju kata-katanya yang deras. Satu pertanyaan bisa ia jawab dengan begitu panjang.

Semangat positif, membangun dan ketaatannya pada Tuhan mendominasi hampir setiap jawaban Agnes, sampai kadang rasanya seperti sedang membaca buku self-help atau pembangkit motivasi. Tapi itu semua keluar toh karena ia sudah melewati dan mengalami banyak hal, seperti pembuktian diri, melibas masalah sampai bersiasat dengan para pembenci (biasa disebut haters) yang sigap mencerca Agnes. Walau ia bilang ‘tidak peduli’, dalam beberapa jawabannya di bawah kita bisa menangkap bahwa kata-kata benci itu pernah menembus benteng dirinya.

Mestinya dalam waktu yang tak terlalu lama lagi keluar album Agnes bersama Timbaland, keinginannya sejak lama. Dan sekali lagi Agnes akan membuktikan: bakat, kemauan baja, dan kerja keras mampu mengubah mimpinya menjadi nyata.

Dalam waktu yang terlalu pendek (Agnes patuh pada jadwal padatnya), Rolling Stone bicara dengannya tentang pandangan orang terhadap dirinya, dunia hiburan Indonesia, dan, tentu saja, go international.

Dapat nominasi penghargaan kesekian kalinya, apa artinya untuk Agnes?
Jadi motivasi, buat lebih maju. Jujur saja, penghargaan itu bukan tujuan utama saya. Dari dulu nggak pernah ngoyo dengan yang namanya penghargaan. Buat saya, yang paling penting sebenarnya karyanya sendiri. [Penghargaan] memang jadi salah satu indikator, tapi bukan jadi tujuan utama saya. Tujuan utama saya adalah I wanna be a better person everyday. Jadi penyanyi yang lebih baik, jadi pribadi yang lebih baik, jadi orang yang lebih bisa menginspirasi.

Every single second saya berpikir bisa melakukan apa, yang bisa memperbaiki diri saya. Makanya mungkin karena itu saya jadi jarang mengurusi orang. Istilahnya, jujur, saya ini karakter orang yang paling nggak pedulian, dalam arti lebih nggak terlalu mengurusi banyak orang, nggak terlalu nyinyir sama orang lain. Diri sendiri saja masih banyak yang harus diperbaiki. Untuk bisa menginspirasi orang lain, mulainya harus dari bagaimana caranya jadi pribadi yang lebih baik. Itu automatically kok, kalau kita jadi pribadi yang lebih baik, itu akan menginspirasi orang.

Sebaliknya banyak orang yang mengurusi atau ingin tahu tentang Agnes.
[Tertawa] Kalau ingin tahu nggak apa-apa ya, cuma kadang-kadang yang lucu itu orang yang nyinyir atau merasa lebih tahu saya daripada saya sendiri. Merasa lebih tahu apa yang harus saya hadapi daripada saya sendiri. Cuma ya itu yang pada akhirnya, jujur, membuat saya semakin nggak mau ngomongin orang. Nggak mau nyinyir, nggak mau mengurusi urusan orang. Banyak hal yang kita nggak tahu 100% tentang apa yang terjadi di hidup orang. Ada hal-hal yang untuk konsumsi pribadi dan ada hal-hal yang memang untuk konsumsi publik.

Jadi saya selalu berusaha menilai “ya sudahlah” kalau ada orang seperti itu. Saya belajar love and forgiveness dari situ. Belajar untuk lebih bersyukur, karena saya benar-benar belajar, satu-satunya cara untuk happy itu sebenarnya bukan dari apa yang kita raih saja, tapi bagaimana caranya bisa mencintai dan memaafkan. Dan be grateful of the little things that we have. Di ajaran agama saya, Kristen, kasih adalah ajaran utama. Kita harus mengasihi orang bukan cuma mereka yang sayang sama kita tapi juga mengasihi orang yang justru membenci kita. Di situ saya belajar, saat kita sudah bisa mengasihi dan memaafkan orang-orang yang mungkin nggak suka dengan kita, nggak suka karena hatinya penuh dengan kebencian, hidup kita justru lebih santai. Mau diomongin orang seperti apa, setiap hari aku berdoa pada Tuhan.

Thank you, Tuhan, paling tidak saya sudah bisa pulang ke ranjang sendiri, saya bisa membiayai karyawan, sudah bisa ke mana-mana pakai mobil. Masalah mengingatkan kita untuk terus bersyukur. Saya mencoba untuk terus bersyukur even for those little things, and I’m so happy. Menjalaninya pun tenang. [Omongan orang] kalau mau diikuti, sakit hati melulu kali. Cuma ya pada saat itu saya mulai berpikir, kasihan orang-orang yang kalau mau bahagia harus ngomongin orang. Saya terima kasih pada Tuhan karena saya sudah bisa bahagia tanpa harus ngomongin orang, tanpa harus merasa insecure, karena sudah ada prestasi saya sendiri.

Seperti lirik di lagu “Muda”, “Hidupku itu adalah aku/Hidupmu itu adalah kamu”?
Saya care sama orang, justru itu bentuk kepedulian saya. Saya membiarkan orang berjalan bersama prosesnya. Saya paling nggak suka menghakimi orang lain. Seperti di Indonesian Idol, setiap mau mengkritik, saya selalu berusaha cari kata-kata yang membangun. Intinya bukan artinya hidup gue hidup gue, hidup elo hidup elo, lebih ke sesuai porsinya saja. Lirik itu agar semua orang bisa bilang bahwa ‘hidup aku adalah mengenai aku’. Yang harus elo perbaiki adalah ‘aku’-nya, bukan dia. Hidupmu adalah tentang apa yang bisa elo bawa dalam diri elo sendiri, ke diri elo sendiri, untuk diri elo sendiri. Yang paling penting adalah menyehatkan mental diri sendiri. Dengan lirik “Hidupku itu adalah aku/Bukan kamu dan ragumu”, maksudnya mau orang lain ngomong apa soal saya, hidup kita harus dimulai dengan kita menyehatkan mental kita sendiri.

Terserah orang mau ngomong elo nggak bisa atau gimana, fokusnya adalah bagaimana kamu memperbaiki diri kamu dulu. Kalau kita sudah jadi lebih baik, dengan sendirinya [itu] menginspirasi orang dan membawa perubahan untuk orang. Contohnya, saya di dalam manajemen. Saat mereka lihat saya latihan seperti orang gila, mau nggak mau mereka akan terbawa. Hidupmu itu adalah kamu, tak peduli usiamu. Kamu muda, kamu bisa. Jiwa muda bukan maksudnya cuma untuk orang-orang muda, tapi orang yang muda itu adalah orang yang masih punya keinginan untuk maju.

Sebutan ‘mulut setan’ dalam lirik lagu “Muda” itu untuk siapa?



Kisah selengkapnya baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 95, Maret 2013

Real Time Pengunjung

My Friends

https://twitter.com/#!/Ranwik_Julianto" target="_ranwik_julianto="Follow Me on Twitter">