-->

Wednesday, 5 September 2012

Sempurna Vs Luar Biasa


Mana yang kamu pilih kalau kamu disuruh milih Cuma salah satu : Jadi sempurna atau luar biasa.?? Kalau sempurna kenapa.??? Dan kalau luar biasa, apa salahnya jadi sempurna.??

Sekarang lagi omongan “jadi sempurna vs jadi luar biasa” dalam wacana ilmu pengembangan diri (self-improvement). Kata mereka yang bikin teori ini , salah kalau kamu memilih buat jadi sempurna. Malah ada buku yang laris dengan cover depannya yang memasang judul besar-besar : “Berhentilah berusaha menjadi sempurna, dan mulailah menjadi luar biasa.!”

Eumh, kedengarannya sigh jadi luar biasa tugh lebih mudah dan lebih realistis buat dicapai ketimbang jadi sempurna. Jadi luar biasa sigh gampang saja, jadi lain dari biasa. Jadi sempurna, sampai kapan bisanya.??!! Lagian, sempurna itu kayak apa sigh.??? Luas sekali, abstrak degh.!!! Jadi, jadi luar biasa itu lebih jelas, lebih terbidik, so lebih hemat waktu.

Kedengarannya sigh bener. Tapi anjuran dan teori tersebut betul-betul nggak betul. Benar-benar salah, dan bermasalah. Apalagi kalau harus menyalahkan anjuran buat jadi sempurna. Kondisi atau status luar biasa hanya bisa dicapai justru kalau kita mengejar kesempurnaan. Soalnya nihh, “Luar Biasa” itu, how ever and whatever, adalah taraf dengan ketinggian yang di atas rata-rata. Nahh, buat mencapai tingkat tersebut, harus dipenuhi syarat-syarat yang cukup luas untuk jadi dasarnya. Misalnya, kalau kita mau mendirikan kaleng-kaleng softdrink setinggi-tingginya, bagian bawahnya harus makin banyak dan melebar. Nggak bisa kita diriin kaleng-kaleng itu sampai dua meter dengan hanya satu kaleng saja dari dasar samapi puncak, pasti akan roboh. Apalagi kalau mau jadi luar biasa, sampai dicatat rekor muri, mendirikan kaleng samapai melampaui tinggi tugu monas. Melebarkan bagian bawahnya itu bisa kita ibaratkan dengan usaha kita untuk memenuhi sejumlah syarat sebagai dasar yang sempurna.

Jadi sempurna memang nggak mungkin, tapi lebih nggak mungkin lagi  untuk jadi luar biasa tanpa lebih dulu menyempurnakan syarat-syarat dasarnya. Kita pun nggak boleh berusaha jadi luar biasa hanya untuk luar biasa saja. Betapa banyak sudah anak muda yang jadi korban ambisinya buat jadi luar biasa, jadi masyhur melalui jalan pintas, tanpa mengusahakan dasar-dasarnya. Membunuh tokoh terkenal misalnya. Masih ingat pemuda yang menembak mati musisi legendaries John Lennon.?? Para ahli Psikologi menyimpulkan, si pembunuh terobsesi buat jadi luar biasa. Tindakkan membunuh memang luar biasa, tapi pasti bukan prestasi. Karena orang primitive yang masih bego-bego juga tiap hari biasa bunuh orang, nggak luar biasa.

Kalau tujuan toghh hanya buat jadi luar biasa, gampang. Bikin saja hal-hal yang aneh-aneh. Hehehehe. Tapi untuk prestasi yang luar biasa, yahh harus belajar. Banyak orang bisa main musik, tapi buat ngetop harus berusaha bikin lagu yang luar biasa, dan untuk itu harus lebih dulu kuasai lagu-lagu yang sudah biasa.

Kesempurnaan memang nggak mungkin tercapai, tapi harus tetap diusahakan. Karena jadi sempurna adalah amanat Firman Tuhan. Baca degh Matius 5 : 48. Juga 2 Korintus 13 : 9 dan 11. Dan banyak lagi ayat yang lain.                                                                                                                                                                        

Real Time Pengunjung

My Friends

https://twitter.com/#!/Ranwik_Julianto" target="_ranwik_julianto="Follow Me on Twitter">